Opini Dating: Stop Normalisasi Toxic Relationship di Medsos!

Opini Dating: Stop Normalisasi Toxic Relationship di Medsos

Opini: Normalisasi “Toxic Relationship” di Media Sosial

contactoscontransexuales – Bayangkan Anda sedang rebahan santai di sore hari, jempol Anda sibuk scrolling lini masa TikTok atau Instagram. Tiba-tiba, lewat sebuah video pendek yang menampilkan sepasang kekasih. Di video itu, sang pria terlihat marah-marah, mengecek ponsel pasangannya secara agresif, dan melarang si wanita pergi dengan teman-temannya. Namun, alih-alih peringatan bahaya, caption yang tertera justru berbunyi: “Gemes banget kalau doi lagi cemburu posesif gini, tandanya sayang banget!”

Lebih mengerikan lagi, ketika Anda membuka kolom komentar, ribuan netizen setuju. “Mau satu yang begini Tuhan,” tulis salah satu akun. “Definisi protective boyfriend,” timpal yang lain. Tanpa sadar, kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang meresahkan: normalisasi, bahkan romantisasi, dari sebuah toxic relationship. Perilaku yang seharusnya menjadi peringatan keras malah dibungkus dengan pita cantik bernama “cinta”.

Sebagai penikmat konten yang juga peduli pada kesehatan mental, rasanya sulit untuk tidak merasa gerah. Media sosial, yang seharusnya menjadi jendela dunia, kini sering kali berubah menjadi etalase perilaku manipulatif yang dipoles estetik. Dalam opini dating kali ini, mari kita bedah mengapa tren ini berbahaya dan bagaimana hal-hal yang sebenarnya adalah red flag hubungan justru dianggap standar baru dalam percintaan modern.

Jebakan Romantisasi: Saat “Posesif” Dianggap Bahasa Cinta

Salah satu narasi paling umum dan paling berbahaya yang sering kita temui adalah anggapan bahwa cemburu buta dan sikap posesif berlebihan adalah bentuk tertinggi dari rasa sayang. Konten-konten couple goals sering kali menampilkan skenario di mana satu pihak melarang pasangannya memakai baju tertentu, memblokir kontak lawan jenis, atau meminta share location 24 jam non-stop.

Jika dipikirkan kembali (when you think about it), ini bukan cinta; ini adalah kontrol. Dalam psikologi, keinginan untuk mengontrol pasangan secara berlebihan berakar dari rasa tidak aman (insecurity) yang mendalam, bukan dari besarnya kasih sayang. Sebuah studi dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa otonomi dan kepercayaan adalah fondasi kepuasan hubungan jangka panjang. Ketika otonomi itu direnggut atas nama “sayang”, Anda sebenarnya sedang melangkah masuk ke dalam toxic relationship.

Masalahnya, media sosial memangkas konteks. Kita hanya melihat potongan video 15 detik yang diberi musik latar romantis. Kita tidak melihat pertengkaran meledak-ledak yang terjadi setelah kamera dimatikan, atau rasa terkekang yang perlahan mematikan karakter seseorang. Menjadikan sikap posesif sebagai standar “peduli” adalah penipuan publik yang bisa menjerumuskan remaja yang belum berpengalaman secara emosional.

Sindrom “I Can Fix Him”: Dongeng Berbahaya di Era Digital

Pernah mendengar tren “cowok red flag tapi ganteng”? Atau narasi “he’s toxic to everyone but soft for me”? Ini adalah varian modern dari dongeng Beauty and the Beast yang sangat digandrungi di platform seperti Twitter (X) dan TikTok. Banyak konten kreator yang dengan bangga memamerkan pasangan mereka yang bermasalah—mungkin emosional, kasar secara verbal, atau tidak setia—dengan narasi bahwa cinta merekalah yang akan mengubah si “monster” menjadi pangeran.

Ini adalah red flag hubungan yang paling klasik namun paling sering diabaikan. Sindrom “aku bisa mengubahnya” ini memberikan validasi semu bahwa bertahan dalam hubungan yang menyakitkan adalah tindakan heroik. Padahal, faktanya, Anda adalah pasangan, bukan pusat rehabilitasi.

Data dari berbagai lembaga konseling pernikahan menunjukkan bahwa karakter dasar seseorang sangat sulit diubah tanpa kemauan keras dari individu itu sendiri dan bantuan profesional. Dengan mempromosikan ide bahwa bertahan dengan orang toxic adalah sebuah prestasi, media sosial secara tidak langsung mengajarkan perempuan (dan laki-laki) untuk mentoleransi perlakuan buruk demi sebuah konten yang viral.

Tren “Loyalty Test” dan Konten Prank: Hiburan atau Bibit Masalah?

Kita tidak bisa membahas opini dating di era digital tanpa menyenggol tren loyalty test atau tes kesetiaan. Anda pasti pernah melihat konten di mana seseorang menyewa “aktor” untuk menggoda pasangannya melalui DM Instagram atau WhatsApp, hanya untuk melihat apakah pasangannya akan tergoda atau setia. Jika setia, konten diunggah dengan caption bangga. Jika selingkuh, konten tetap diunggah dengan caption sedih (dan tentu saja, mendulang views).

Sepintas, ini terlihat seperti eksperimen sosial yang seru. Namun, jika kita telisik lebih dalam, tren ini menormalisasi ketidakpercayaan. Hubungan yang sehat dibangun di atas dasar kepercayaan, bukan jebakan. Ketika Anda merasa perlu melakukan tes jebakan untuk membuktikan kesetiaan pasangan, sebenarnya toxic relationship itu sudah dimulai dari diri Anda sendiri.

Konten semacam ini menciptakan paranoia kolektif. Penonton menjadi curigaan terhadap pasangannya sendiri, dan standar kesetiaan diukur bukan dari komitmen harian, melainkan dari lolos atau tidaknya seseorang dari sebuah skenario manipulatif. Ini menggeser nilai hubungan dari partnership menjadi permainan menang-kalah.

Oversharing Pertengkaran: Menjadikan Drama Pribadi Konsumsi Publik

Zaman dulu, pepatah mengatakan “jangan menjemur kasur basah di depan rumah”. Aib rumah tangga atau masalah hubungan adalah ranah privat. Namun hari ini? Menangis sambil merekam diri sendiri saat bertengkar dengan pacar adalah konten. Mengunggah tangkapan layar chat kasar pasangan adalah cara untuk mendapatkan simpati (dan validasi) dari netizen.

Meskipun dalam beberapa kasus speak up diperlukan untuk mencari keadilan (misalnya dalam kasus kekerasan fisik), banyak konten yang sebenarnya hanya berupa drama percintaan remaja yang tidak sehat. Normalisasi oversharing masalah hubungan ini mengaburkan batas privasi.

Bahayanya adalah audiens mulai menganggap bahwa hubungan yang penuh drama, putus-nyambung, dan saling sindir di story adalah dinamika yang wajar. Padahal, hubungan yang stabil dan membosankan (dalam artian positif: tenang, tanpa drama) justru sering kali adalah hubungan yang paling sehat. Media sosial membuat kita kecanduan pada adrenalin konflik, sehingga hubungan yang tenang dianggap “kurang effort” atau membosankan.

Dampak Psikologis: Distorsi Realitas Cinta pada Gen Z

Generasi Z dan Alpha adalah kelompok yang paling rentan terpapar narasi ini. Mereka tumbuh dengan smartphone di tangan, menyerap definisi cinta dari apa yang mereka lihat di layar. Ketika algoritma terus-menerus menyodorkan konten yang meromantisasi red flag hubungan, standar bawah sadar mereka pun bergeser.

Banyak anak muda kini kesulitan membedakan antara perhatian (attention) dan obsesi (obsession). Mereka mungkin merasa “kurang dicintai” jika pasangannya tidak meminta password media sosial mereka, karena di TikTok, hal itu dianggap sebagai bukti transparansi total. Padahal, privasi individu tetap harus ada meskipun sudah berpasangan.

Distorsi realitas ini menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan sering kali merusak. Alih-alih mencari komunikasi yang asertif dan saling menghargai, banyak orang justru mencari pasangan yang memberikan “roller coaster emosi”—senang dan sakit bergantian—karena itulah yang mereka pelajari sebagai passion atau gairah cinta dari media sosial.

Membedakan “Bumbu Hubungan” dengan Tanda Bahaya Nyata

Penting bagi kita untuk kembali meluruskan pandangan. Tidak semua konflik adalah toxic, dan tidak semua cemburu adalah tanda cinta. Opini dating yang sehat harus bisa membedakan mana “bumbu hubungan” dan mana racun.

Konflik yang sehat berfokus pada penyelesaian masalah, bukan penyerangan karakter. Cemburu yang wajar adalah rasa takut kehilangan yang dikomunikasikan dengan baik, bukan yang berujung pada pelarangan atau kekerasan verbal.

Tanda bahaya nyata atau red flag hubungan yang sering kali disamarkan di media sosial meliputi:

  • Gaslighting: Memutarbalikkan fakta hingga korban meragukan kewarasannya sendiri. Di medsos, ini sering terlihat dalam konten prank yang kelewat batas.
  • Isolasi: Menjauhkan pasangan dari teman dan keluarga. Sering dibungkus narasi “dunia milik berdua”.
  • Love Bombing: Memberikan perhatian/hadiah berlebihan di awal untuk memanipulasi, lalu menariknya tiba-tiba saat korban sudah terikat.

Kita perlu berhenti memberikan panggung pada konten-konten yang menormalisasi perilaku di atas. Tombol like dan share Anda memiliki kekuatan untuk menentukan standar moral di dunia maya.

Jadilah Konsumen Konten yang Cerdas

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat; kitalah yang memegang kendali atas bagaimana kita menginterpretasikan konten yang ada. Normalisasi toxic relationship tidak akan berhenti jika kita terus menikmatinya sebagai hiburan semata. Sudah saatnya kita lebih kritis. Jika Anda melihat konten yang meromantisasi kekerasan verbal, posesif berlebihan, atau manipulasi emosional, jangan ragu untuk melewatinya atau bahkan melaporkannya.

Hubungan yang sehat mungkin tidak selalu “viral-able” atau penuh drama yang menguras air mata, tapi itulah yang akan menyelamatkan kesehatan mental Anda dalam jangka panjang. Ingatlah, cinta sejati seharusnya membuat Anda merasa aman dan bertumbuh, bukan membuat Anda merasa diawasi atau harus selalu berjalan di atas cangkang telur. Mari ciptakan standar baru: keren itu bukan yang posesif, tapi yang suportif dan saling percaya.