Berdamai dengan “Inner Child” Sebelum Menikah
contactoscontransexuales – Pernahkah Anda melihat pasangan yang bertengkar hebat hanya karena masalah sepele, seperti lupa menaruh handuk basah atau terlambat membalas pesan WhatsApp selama sepuluh menit? Jika dilihat dari kacamata orang dewasa yang rasional, reaksi amarah yang meledak-ledak atau aksi diam berhari-hari (silent treatment) untuk masalah sekecil itu rasanya tidak masuk akal. Namun, jika kita memakai kacamata psikologi, kita akan melihat sesuatu yang lain.
Sering kali, yang sedang bertengkar di ruang tamu itu bukanlah dua orang dewasa berusia 20-an atau 30-an tahun. Yang sedang berteriak dan menangis itu sebenarnya adalah dua anak kecil yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Sosok anak kecil inilah yang kita kenal dengan istilah inner child.
Menjelang pernikahan, kita sering disibukkan dengan urusan katering, gaun pengantin, hingga sewa gedung. Kita lupa bahwa persiapan pranikah yang paling krusial bukanlah soal pesta satu malam, melainkan kesiapan mental untuk hidup bersama selamanya. Tanpa healing dan selflove yang cukup, pernikahan bisa berubah menjadi arena di mana dua “anak kecil” yang terluka saling menuntut validasi yang tidak pernah mereka dapatkan dari orang tua mereka di masa lalu.
Mari kita duduk sejenak dan menyelami mengapa berdamai dengan si kecil di dalam diri adalah investasi terbesar sebelum Anda mengucap janji suci.
Si Kecil yang Terluka di Balik Tubuh Dewasa
Secara sederhana, inner child adalah bagian dari diri kita yang menyimpan memori, emosi, dan pola pikir yang terbentuk di masa kanak-kanak. Dalam dunia psikologi, ini bukanlah konsep mistis, melainkan jejak neurobiologis. Otak kita merekam bagaimana kita diperlakukan saat kecil. Apakah kita merasa aman? Apakah tangisan kita didengar? Atau apakah kita harus menjadi “sempurna” agar disayang?
Jika masa kecil Anda penuh dengan penolakan, kekerasan verbal, atau pengabaian emosi, inner child Anda terluka. Luka ini tidak hilang begitu saja saat Anda meniup lilin ulang tahun ke-17. Ia bersembunyi di alam bawah sadar, menunggu pemicu (trigger).
Bayangkan Anda adalah seseorang yang saat kecil selalu dimarahi jika melakukan kesalahan kecil. Saat dewasa dan pasangan Anda menegur cara Anda menyetir mobil, inner child Anda yang ketakutan mengambil alih kendali. Alih-alih merespons sebagai orang dewasa (“Oh iya, maaf aku kurang hati-hati”), Anda mungkin merespons dengan defensif berlebihan atau merasa tidak berharga. Ini adalah tanda bahwa proses healing belum tuntas.
Mengapa Luka Lama Bisa Menghancurkan Pernikahan Baru?
Banyak orang terjebak dalam mitos romantis bahwa “cinta akan menyembuhkan segalanya”. Jujur saja, ini adalah beban yang terlalu berat untuk ditaruh di pundak pasangan Anda. Pasangan Anda adalah manusia biasa, bukan terapis atau juru selamat.
Ketika Anda membawa luka inner child yang belum selesai ke dalam pernikahan, Anda tanpa sadar melakukan proyeksi. Anda mungkin memproyeksikan sosok ayah yang otoriter kepada suami Anda, atau sosok ibu yang penuntut kepada istri Anda. Anda berharap pasangan Anda bisa mengisi lubang kosong di hati yang ditinggalkan orang tua Anda.
Dalam konseling pranikah, sering ditemukan pola di mana seseorang dengan abandonment issue (takut ditinggalkan) akan menjadi sangat posesif. Sedikit saja pasangan butuh waktu sendiri (me time), ia merasa dibuang. Padahal, dalam hubungan yang sehat, jarak sejenak itu wajar. Ketidakmampuan membedakan antara “sedang sibuk” dan “sedang meninggalkan” adalah ciri khas trauma masa lalu yang belum tersentuh healing.
Mitos “Menikah Akan Menyelesaikan Masalah”
Masyarakat kita sering memberi saran yang cukup berbahaya: “Nikah saja dulu, nanti juga dewasa sendiri.” Padahal, pernikahan justru bertindak sebagai kaca pembesar (magnifying glass). Masalah kecil saat pacaran akan menjadi masalah raksasa saat menikah karena intensitas pertemuan dan tanggung jawab yang bertambah.
Jika Anda belum memiliki selflove atau kemampuan mencintai diri sendiri, Anda akan menuntut pasangan untuk menjadi sumber utama kebahagiaan Anda. Ini adalah resep bencana. Ketika pasangan gagal memenuhi ekspektasi (dan mereka pasti akan gagal sesekali karena mereka manusia), Anda akan merasa hancur lebur.
Menikah tanpa membereskan inner child ibarat membangun rumah mewah di atas pondasi yang retak. Mungkin terlihat indah dari luar, tapi goncangan gempa kecil saja bisa meruntuhkannya. Oleh karena itu, persiapan mental dan psikologi jauh lebih urgen daripada persiapan resepsi.
Deteksi Dini: Tanda Inner Child Anda Sedang “Mengamuk”
Sebelum melangkah ke pelaminan, cobalah lakukan audit emosi. Apakah Anda memiliki tanda-tanda berikut?
-
Reaksi Emosional yang Tidak Proporsional: Marah besar untuk hal kecil, atau menangis histeris karena kritik ringan.
-
People Pleasing: Takut berkata “tidak” pada pasangan karena takut ditinggalkan, mengorbankan batasan diri sendiri.
-
Trust Issue: Selalu curiga tanpa bukti yang jelas, merasa pasangan pasti akan selingkuh atau berbohong.
-
Menghindari Konflik (Stonewalling): Memilih diam seribu bahasa dan lari dari masalah daripada menyelesaikannya (biasanya karena takut akan konfrontasi seperti yang terjadi di rumah masa kecil).
Jika poin-poin di atas terasa familiar, itu adalah alarm bahwa inner child Anda sedang berteriak minta tolong. Mengabaikannya demi mengejar target umur menikah hanya akan menunda ledakan waktu.
Selflove: Menjadi Orang Tua Bagi Diri Sendiri
Lalu, apa solusinya? Jawabannya ada pada konsep Reparenting atau menjadi orang tua bagi diri sendiri. Ini adalah inti dari selflove yang sejati.
Selflove bukan sekadar pergi ke spa, staycation, atau belanja barang mewah. Selflove dalam konteks healing adalah kemampuan untuk berkata pada diri sendiri: “Aku melihatmu terluka, aku validasi perasaanmu, dan aku di sini untuk menjagamu.”
Saat Anda merasa cemas pasangan tidak membalas pesan, alih-alih meneror mereka dengan telepon, Anda belajar menenangkan diri sendiri. Anda berkata pada inner child Anda, “Hei, dia cuma sibuk kerja, bukan meninggalkan kita. Kita aman, kok.” Kemampuan menenangkan diri sendiri (self-soothing) adalah keterampilan psikologi wajib bagi calon pengantin. Dengan memiliki tangki cinta yang penuh dari diri sendiri, Anda datang ke pernikahan untuk berbagi kebahagiaan, bukan untuk mengemis kebahagiaan.
Terapi Pranikah: Investasi yang Lebih Penting dari Katering
Jika luka masa lalu terasa terlalu dalam untuk disembuhkan sendirian, jangan ragu mencari bantuan profesional. Mengikuti sesi konseling pranikah dengan psikolog bukan tanda Anda “gila” atau hubungan Anda bermasalah. Justru, itu tanda kedewasaan.
Dalam sesi terapi, psikolog akan membantu Anda memetakan pola asuh orang tua yang mungkin tanpa sadar Anda duplikasi. Apakah Anda ingin mengulang pola itu ke anak-anak Anda kelak? Tentu tidak, bukan? Memutus rantai trauma (breaking the cycle) dimulai dari kesadaran Anda hari ini.
Investasi untuk kesehatan mental mungkin tidak terlihat wujudnya seperti dekorasi pelaminan, tapi dampaknya bertahan seumur hidup. Biaya sesi healing jauh lebih murah dibandingkan biaya perceraian atau biaya memulihkan mental anak-anak Anda di masa depan akibat tumbuh di rumah tangga yang toxic.
Langkah Konkret Memeluk Diri Sendiri
Bagi Anda yang sedang dalam fase persiapan pernikahan, berikut langkah praktis yang bisa mulai dilakukan:
-
Jurnalisme Rasa: Tuliskan apa yang memicu emosi Anda. Cari benang merahnya ke masa lalu. “Kenapa aku benci kalau pasanganku nada suaranya meninggi? Oh, karena dulu Ayah sering bentak Ibu.”
-
Komunikasi Terbuka: Ceritakan tentang luka masa kecil Anda pada pasangan, bukan untuk meminta mereka menyembuhkan, tapi agar mereka paham “peta ranjau” dalam diri Anda.
-
Maafkan Diri Sendiri: Pahami bahwa reaksi-reaksi “kekanak-kanakan” Anda dulu adalah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang membantu Anda bertahan hidup saat kecil. Berterima kasihlah, lalu lepaskan karena Anda sudah dewasa dan aman sekarang.
Menikah adalah perjalanan dua orang dewasa yang sadar, bukan pelarian dua anak kecil yang ketakutan. Berdamai dengan inner child adalah hadiah pernikahan terbaik yang bisa Anda berikan kepada pasangan, dan terutama kepada diri Anda sendiri.
Jangan terburu-buru. Ambil waktu untuk healing. Bangun fondasi selflove yang kokoh. Ketika Anda sudah utuh dengan diri sendiri, pernikahan bukan lagi tentang saling melengkapi kekurangan, melainkan saling berbagi kelebihan. Ingatlah, Anda berhak bahagia, dan kebahagiaan itu dimulai dari dalam, bukan dari cincin yang melingkar di jari manis.



